Pasar Budaya
UPI 2015
Keragaman
Kebudayaan Indonesia
Indonesia adalah Negara Kesatuan yang penuh dengan
keragaman. Indonesia terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras,
suku bangsa, agama dan kepercayaan, dll. Namun Indonesia mampu mepersatukan
berbagai keragaman itu sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia "Bhineka Tunggal Ika" , yang
berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia.
Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri
keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan
kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan
daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan
kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta
orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga
mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari
pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan.
Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa
dan masyarakat di Indonesia yang berbeda.
Indonesia mempunyai potret
kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di
Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan
secara paralel. Hubungan-hubungan antar kebudayaan tersebut dapat berjalan
terjalin dalam bingkai ”Bhineka Tunggal Ika” , dimana bisa kita maknai
bahwa konteks keanekaragamannya bukan hanya mengacu kepada keanekaragaman
kelompok sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan.
Oleh karena
itu, dalam upaya mengembangkan dan melestarikan keragaman kebudayaan Indonesia,
untuk pertama kalinya forum budaya Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang
merupakan program kerjasama dari 3 jurusan yang berbeda di UPI, yaitu Manajemen
Resort and Leasure (MRL), Sosiologi, dan Seni Rupa, menggelar
Pasar Budaya UPI 2015, yang bertempat di gedung Gymnasium Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI) di Jalan Setiabudhi, Kota Bandung, terhitung dari
tanggal 11 sampai dengan 13 Mei 2015.
Pasar Budaya
UPI 2015, melibatkan seluruh mahasiswa dari berbagai fakultas yang ada di UPI
untuk ikut serta dalam acara pasar budaya ini. Karena pasar budaya UPI berupaya
mengangkat nilai-nilai gotong royong yang ada disetiap budaya dari masing-masing
daerah. Terdapat 9 yang menjadi nilai-nilai dari gotong royong tersebut
diantaranya yaitu : nilai perdamaian, nilai suka cita, nilai disiplin, nilai
kerendahan hati, nilai kasih sayang, nilai kearifan, nilai kepedulian, nilai
kesabaran dan nilai kesetiaan. Oleh karena itu sudah seharusnya generasi muda
untuk dapat mengenal dan mempelajari nilai-nilai yang terkandung dalam
kebudayaan tersebut.
Berhubung
saya mahasiswa PGPAUD FIP UPI, saya harus ikut serta dalam acara pasar budaya
UPI ini. Saat saya memasuki pasar budaya UPI ternyata harus di bagi beberapa
kelompok terlebih dahulu sesuai dengan warna tiket gelang yang diberikan oleh
panitia. Setelah kelompok sudah terbagi, saatnya kelompok saya di bawa oleh
ushers yang bertugas untuk mengantarkan pengunjung mengelilingi pasar budaya.
Kelompok saya terlebih dahulu diarahkan keruangan untuk menonton video mengenai
pasar budaya UPI. Setelah menonton selesai, selanjutnya ushers membawa kelompok
saya mengelilingi stall-stall kebudayaan. Di pasar budaya ini kurang lebih
terdapat 30 stall kebudayaan Indonesia, akan tetapi setiap kelompok hanya
diperbolehkan mengunjungi 2 stall saja.
Pertama, kelompok saya berkunjung ke stall Cincau. Di
stall cincau ini saya mendapat banyak sekali pengetahuan tentang sejarah,
kegunaan, bahan-bahan, dan cara membuat cincau. Saya juga dapat terjun langsung
untuk membuat cincau. Tahukah kalian? Kata "Cincau" sendiri
berasal dari dialek Hokkian sienchau yang lazim dilafalkan di kalangan
Thionghoa di Asia Tenggara. Cincau sendiri di bahasa asalnya sebenarnya adalah
nama tumbuhan (Mesona
spp) yang
menjadi bahan pembuatan gel ini.Cincau paling banyak digunakan sebagai komponen
utama minuman penyegar (misalnya dalam es cincau atau es campur). Karena dalam
cincau ini banyak sekali manfaatnya misalnya : dalam menyembuhkan panas perut,
tekanan darah tinggi, sariawan, bisul dan demam. Dalam pembuatan cincau
terdapat nilai gotong royong seperti : 1) nilai kesabaran, yaitu
artinya bahwa dalam mengolah cincau kita harus dapat bersabar menunggu beberapa
jam supaya cincau dapat mengental dengan baik. 2) nilai disiplin, karena dalam
proses pembuatan cincau harus berurutan dan sesuai. 3) nilai sukacita artinya
kita dalam membuat cincau harus dengan hati yang senang. 4) nilai
kasih sayang, karena dalam proses membuat cincau harus pakai hati biar enak. 5)
nilai kepedulian, artinya kita harus dapat melestarikan tanaman cincau yang hamir langka.
Kedua, kelompok saya berkunjung
ke stall Gudeg Jogja. Di stall ini juga saya mendapat banyak pengetahuan
tentang asal usul sejarah gudeg, bahan-bahan, dan cara membuat gudeg. Yang
berkesan di stall ini menurut saya adalah nama Gudeg itu sendiri, tahukan
kalian mengapa disebut GUDEG? Yaaa karena katanya, dahulu kala ada seorang pria
asal inggris yang menikah dengan perempuan asal jawa, nah ketika sang istri
akan menyiapkan hidangan makan untuk suaminya, istrinya teringat resep turun
temurun keluarganya yang menggunakan bahan dari nangka muda tersebut. Saat, suaminya
mencicipi masakan istrinya dengan lahapnya, ia berkata agak keras “it’s good
dek” dengan ekspresi senang. Tetapi istrinya tidak mengerti, dia malah
menyangka masakan yang ia buat itu namanya “Gudeg”. Nah
dari situlah makanan nangka itu mulai disebut GUDEG asal kata “good dek”. Dalam
proses pembuatan gudeg jogja terdapat pula nilai gotong royongnya antara lain :
1) nilai kesabaran, karena dalam proses membuat gudeg itu diperlukan waktu
cukup lama yaitu 7-24 jam. 2) nilai kedisiplinan, karena dalam membuat gudeg
apinya harus kecil dan tetap stabil dan setiap jamnya harus dicek. 3) nilai
kesetian, kita harus dapat menunggu agar masakan gudeg itu matang dan enak.
Sekian dari
saya, hanya
itu saja yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat untuk semuanya. Dengan
adanya pasar budaya UPI 2015 ini semoga kita sebagai generasi penerus bangsa,
kita dapat dan mampu menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa kita tercinta
Indonesia ini. Janganlah kita biarkan perbedaan yang ada itu membuat kita lemah
dan memicu konflik, marilah kita bergandengan tangan
menyongsong Indonesia yang Jaya dan penuh dengan harapan. Janganlah kita
mengucapkan kata - kata negatif tentang Indonesia, karena apa yang kita katakan
itu adalah DOA. Jadi katakan kata POSITIF untuk Indonesia. Kalau INDONESIA
Sejahtera, kehidupan Kita sebagai rakyat juga Sejahtera J


Tidak ada komentar:
Posting Komentar