Kamis, 14 Mei 2015

Pasar Budaya UPI 2015 (Keragaman Kebudayaan Indonesia)

Pasar Budaya UPI 2015
Keragaman Kebudayaan Indonesia

Indonesia adalah Negara Kesatuan yang penuh dengan keragaman. Indonesia terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan, dll. Namun Indonesia mampu mepersatukan berbagai keragaman itu sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia "Bhineka Tunggal Ika" , yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. 
Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan secara paralel. Hubungan-hubungan antar kebudayaan tersebut dapat berjalan terjalin dalam bingkai ”Bhineka Tunggal Ika” , dimana bisa kita maknai bahwa konteks keanekaragamannya bukan hanya mengacu kepada keanekaragaman kelompok sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan.
Oleh karena itu, dalam upaya mengembangkan dan melestarikan keragaman kebudayaan Indonesia, untuk pertama kalinya forum budaya Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang merupakan program kerjasama dari 3 jurusan yang berbeda di UPI, yaitu Manajemen Resort and Leasure (MRL), Sosiologi, dan Seni Rupa, menggelar Pasar Budaya UPI 2015, yang bertempat di gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Jalan Setiabudhi, Kota Bandung, terhitung dari tanggal 11 sampai dengan 13 Mei 2015.
Pasar Budaya UPI 2015, melibatkan seluruh mahasiswa dari berbagai fakultas yang ada di UPI untuk ikut serta dalam acara pasar budaya ini. Karena pasar budaya UPI berupaya mengangkat nilai-nilai gotong royong yang ada disetiap budaya dari masing-masing daerah. Terdapat 9 yang menjadi nilai-nilai dari gotong royong tersebut diantaranya yaitu : nilai perdamaian, nilai suka cita, nilai disiplin, nilai kerendahan hati, nilai kasih sayang, nilai kearifan, nilai kepedulian, nilai kesabaran dan nilai kesetiaan. Oleh karena itu sudah seharusnya generasi muda untuk dapat mengenal dan mempelajari nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan tersebut.
Berhubung saya mahasiswa PGPAUD FIP UPI, saya harus ikut serta dalam acara pasar budaya UPI ini. Saat saya memasuki pasar budaya UPI ternyata harus di bagi beberapa kelompok terlebih dahulu sesuai dengan warna tiket gelang yang diberikan oleh panitia. Setelah kelompok sudah terbagi, saatnya kelompok saya di bawa oleh ushers yang bertugas untuk mengantarkan pengunjung mengelilingi pasar budaya. Kelompok saya terlebih dahulu diarahkan keruangan untuk menonton video mengenai pasar budaya UPI. Setelah menonton selesai, selanjutnya ushers membawa kelompok saya mengelilingi stall-stall kebudayaan. Di pasar budaya ini kurang lebih terdapat 30 stall kebudayaan Indonesia, akan tetapi setiap kelompok hanya diperbolehkan mengunjungi 2 stall saja.
Pertama, kelompok saya berkunjung ke stall Cincau. Di stall cincau ini saya mendapat banyak sekali pengetahuan tentang sejarah, kegunaan, bahan-bahan, dan cara membuat cincau. Saya juga dapat terjun langsung untuk membuat cincau. Tahukah kalian? Kata "Cincau" sendiri berasal dari dialek Hokkian sienchau yang lazim dilafalkan di kalangan Thionghoa di Asia Tenggara. Cincau sendiri di bahasa asalnya sebenarnya adalah nama tumbuhan (Mesona spp) yang menjadi bahan pembuatan gel ini.Cincau paling banyak digunakan sebagai komponen utama minuman penyegar (misalnya dalam es cincau atau es campur). Karena dalam cincau ini banyak sekali manfaatnya misalnya : dalam menyembuhkan panas perut, tekanan darah tinggi, sariawan, bisul dan demam. Dalam pembuatan cincau terdapat nilai gotong royong seperti : 1) nilai kesabaran, yaitu artinya bahwa dalam mengolah cincau kita harus dapat bersabar menunggu beberapa jam supaya cincau dapat mengental dengan baik. 2) nilai disiplin, karena dalam proses pembuatan cincau harus berurutan dan sesuai. 3) nilai sukacita artinya kita dalam membuat cincau harus dengan hati yang senang. 4) nilai kasih sayang, karena dalam proses membuat cincau harus pakai hati biar enak. 5) nilai kepedulian, artinya kita harus dapat melestarikan tanaman cincau  yang hamir langka.
Kedua, kelompok saya berkunjung ke stall Gudeg Jogja. Di stall ini juga saya mendapat banyak pengetahuan tentang asal usul sejarah gudeg, bahan-bahan, dan cara membuat gudeg. Yang berkesan di stall ini menurut saya adalah nama Gudeg itu sendiri, tahukan kalian mengapa disebut GUDEG? Yaaa karena katanya, dahulu kala ada seorang pria asal inggris yang menikah dengan perempuan asal jawa, nah ketika sang istri akan menyiapkan hidangan makan untuk suaminya, istrinya teringat resep turun temurun keluarganya yang menggunakan bahan dari nangka muda tersebut. Saat, suaminya mencicipi masakan istrinya dengan lahapnya, ia berkata agak keras “it’s good dek” dengan ekspresi senang. Tetapi istrinya tidak mengerti, dia malah menyangka masakan yang ia buat itu namanya “Gudeg”. Nah dari situlah makanan nangka itu mulai disebut GUDEG asal kata “good dek”. Dalam proses pembuatan gudeg jogja terdapat pula nilai gotong royongnya antara lain : 1) nilai kesabaran, karena dalam proses membuat gudeg itu diperlukan waktu cukup lama yaitu 7-24 jam. 2) nilai kedisiplinan, karena dalam membuat gudeg apinya harus kecil dan tetap stabil dan setiap jamnya harus dicek. 3) nilai kesetian, kita harus dapat menunggu agar masakan gudeg itu matang dan enak.

Sekian dari saya, hanya itu saja yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat untuk semuanya. Dengan adanya pasar budaya UPI 2015 ini semoga kita sebagai generasi penerus bangsa, kita dapat dan mampu menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa kita tercinta Indonesia ini. Janganlah kita biarkan perbedaan yang ada itu membuat kita lemah dan memicu konflik, marilah kita bergandengan tangan menyongsong Indonesia yang Jaya dan penuh dengan harapan. Janganlah kita mengucapkan kata - kata negatif tentang Indonesia, karena apa yang kita katakan itu adalah DOA. Jadi katakan kata POSITIF untuk Indonesia. Kalau INDONESIA Sejahtera, kehidupan Kita sebagai rakyat juga Sejahtera J





Tidak ada komentar:

Posting Komentar